Setelah Viral Video Anak Berkebutuhan Khusus Menarik Rambut Pengunjung Toko Aksesoris di Pacitan.Begini penjelasannya

0
59

PewartaTV, Pacitan – Anak difabel atau anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki keterbatasan, baik dalam hal fisik, mental, intelektual, sosial, maupun emosional. Keterbatasan ini kemudian memengaruhi tumbuh kembangnya sehingga ia tidak seperti anak-anak lain pada umumnya.

Menurut Fatma Swa Agni, akademisi bidang psikologi menjelaskan, bahwa Secara umum disabilitas terbagi menjadi tiga yaitu, disabilitas fisik, mental, dan disabilitas ganda.

” Kita perlu pahami dulu masing masing bentuk dan sifat dari anak berkebutuhan khusus, agar kita tahu bagaimana cara menghadapinya.” Kata Fatma, Selasa (12/03/2024).

Baca Juga : Polisi Buru Pelaku Pencurian Kabel Trafo PLN di Pacitan

disabilitas fisik berarti memiliki keterbatasan secara fisik, Penyandang disabilitas fisik umumnya disebut sebagai tuna daksa yang artinya memiliki anggota tubuh yang kurang sempurna.

Lalu berikutnya adalah disabilitas mental, Disabilitas mental berarti memiliki keterbatasan atau gangguan pada mental yang berpengaruh pada tingkah laku. Dan yang terakhir adalah disabilitas ganda, Disabilitas ganda berarti menyandang dua jenis keterbatasan sekaligus, baik itu dari segi fisik maupun mental.

” Ya Secara keseharian kita dapat dengan mudah mengenali anak ataupun orang dengan jenis disabilitas yang pertama dan ketiga, namun tidak demikian dengan jenis disabilitas mental, tak jarang kita melihat mereka baik-baik saja secara fisik.'”ungkap perempuan yang kesehariannya menjadi tenaga pendidik lingkup kabupaten Pacitan.

Lalu bagaimana kita sebagai manusia yang diberi kesempurnaan oleh tuhan memperlakukan anak-anak atau orang dengan keterbatasan mental ?

Menanggapi pertanyaan tersebut, Fatma Swa Agni menjelaskan, Pertama hargai mereka, bagaimanapun kondisi mereka berhak dihargai. Terkadang, salah satu hal yang paling dibutuhkan oleh orang yang mengalami keterbatasan mental adalah didengar. Sayangnya tidak banyak yang mampu melakukan itu dilingkungan mereka.
Kedua jangan bohongi mereka, jangan berasumsi bahwa orang dengan keterbatsan mental bukanlah orang yang cerdas, tidak ada hubunganya antara keterbatasan mental dengan tingkat kecerdasan seseorang, jadi saat kita berbohong justru akan membuat dia tidak percaya kepada kita

Yang ketiga pahami keadaan mereka, jika kita tidak bisa memahami keadaan atau kondisi mereka maka mustahil mereka bisa membuka diri dengan lingkungan luar,
Berikutnya perhatikan ucapan kita saat bertemu mereka, terkadang kita bingung ketika harus merespon setiap ucapan dan perbuatan mereka. Apapun yang mereka katakan dan lakukan, usahakan untuk tidak diam karena diam bukanlah pilihan terbaik untuk memperlakukan mereka. Sebisa mungkin berikan respon positif kepada mereka.Dan yang terakhir adalah jangan menghakimi mereka.

Sementara itu Bagus Yudho, guru SD alam Pacitan menambahkan, Kita bisa mengambil peran dalam proses pemulihan mereka hanya dengan tidak menghakimi mereka, kita tidak tahu pasti beban seperti apa yang ada dalam keluarga mereka.

” Mari kita saling memahami, memang sulit tapi kita harus mencoba. Jadilah manusia yang bisa memanusiakan manusia.” Pungkas Bagus. (Ton)

Google search engine

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini