Ritual Tirto Wening, Sejarah Sumur Njero Bagian Dari Berdirinya Kabupaten Pacitan

0
99

PewartaTV, Pacitan – Sumur Njero yang terletak di Dusun Ngerjoso, Desa Sukoharjo, adalah salah satu saksi bisu berdirinya Kabupaten Pacitan, karena sumur Njero ini merupakan peninggalan Raden Tumenggung Notopuro atau bupati pertama Pacitan.

sumur yang sudah berusia sekitar 270 tahun ini tidak pernah kering meskipun di musim kemarau. Joko Wibowo (60) sesepuh desa yang juga juru kunci setempat mengatakan, area petilasan sumur Njero ini dulunya merupakan sebuah sumber air bersih area kadipaten Kabupaten Pacitan.

“Notopuro diangkat menjadi bupati pertama yang kala itu bergelar tumenggung diera tahun 1745-1757.saat itu masih bagian dari keraton solo, Dan area ini dulunya memang benar merupakan cikal bakal Kabupaten Pacitan, dan salah satu peninggalannya ya sumur ini, ” katanya. Senin(19/02/24).

Dalam setiap peringatan Hari Jadi Pacitan, ritual pengambilan air Tirto Wening dari sumur tersebut selalu digelar oleh masyarakat desa setempat. Seperti yang dilakukan dalam peringatan hari jadi Pacitan ke 279 ini.

Pengambilan air Tirto Wening diawali dengan pembacaan do’a yang dilakukan oleh sesepuh desa, dan Tepat pada pukul 24.00 WIB, ritual pengambilan Tirto Wening tersebut pun dimulai. Air yang diambil dari sumur Njero kemudian dimasukkan kedalam kendi ( 14 kendi) , dan diarak menuju kantor desa.

Tak sampai disitu saja, sebagian dari air Tirto Wening juga jadi rebutan warga yang hadir pada upacara adat tersebut. Sebagian warga menggunakan air untuk sekedar membasuh wajah, bahkan ada pula yang meminumnya.
Masyarakat percaya bahwa air dari peninggalan bupati pertama Pacitan itu bisa membawa berkah.

“Ya semoga saja bisa membawa berkah, dan kalau saya gunakan membasuh muka ini biar bisa awet muda, ” ujar Mariyati warga desa Sukoharjo.

Sementara itu, Kepala Desa Sukoharjo menambahkan, upacara adat dalam ritual pengambilan air Tirto Wening tersebut sudah menjadi tradisi bagi masyarakat desa setempat menjelang Hari Jadi Pacitan.

“upacara adat ini diharapkan dapat membuat generasi milenial agar turut serta dalam menjaga dan melestarikan warisan tradisi leluhur. Setiap tahun selalu kita adakan, utamanya dalam melestarikan adat dan tradisi yang semakin tergerus oleh zaman, ” pungkasnya pada pewarta .( Ton)

Google search engine

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini