Presiden Terpilih Kolombia Berencana Buka Kedutaan di Yerusalem, Tanda Pemulihan Hubungan dengan Israel
Presiden terpilih Kolombia, Abelardo de la Espriella, berencana memulihkan hubungan diplomatik dengan Israel setelah dua tahun terputus. Salah satu langkah yang disiapkan ialah membuka Kedutaan Besar Kolombia di Yerusalem usai pemerintahan baru resmi dilantik pada 7 Agustus 2026.
Rencana tersebut disampaikan setelah Menteri Luar Negeri Kolombia yang ditunjuk, Omar Bula, bertemu Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, di Washington. Dalam pertemuan itu, kedua pihak menyepakati pengangkatan kembali duta besar masing-masing negara. Mereka juga membahas penghapusan kewajiban visa bagi warga kedua negara serta pemindahan Kedutaan Besar Kolombia dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Kebijakan baru itu menandai perubahan arah diplomasi Kolombia. Pemerintahan sebelumnya di bawah Presiden Gustavo Petro memutus hubungan dengan Israel pada 2024. Saat itu, Petro mengambil langkah tersebut sebagai bentuk protes terhadap operasi militer Israel di Jalur Gaza dan menerapkan embargo perdagangan tertentu, termasuk sektor pertahanan.
Pemerintahan Abelardo de la Espriella menyatakan ingin membangun kembali kerja sama dengan Israel di bidang perdagangan, keamanan, teknologi, dan investasi. Namun, rencana membuka kedutaan di Yerusalem diperkirakan akan memicu perdebatan internasional. Pasalnya, status Yerusalem masih menjadi isu sensitif dalam konflik Israel dan Palestina serta menjadi perhatian berbagai organisasi internasional.
Baca Juga : Dua Mahasiswi UB Viral Usai Rayakan Kelulusan dengan Bagi Sayuran Gratis kepada Warga




