BUDAYAPEMERINTAHANPeristiwa

HUT Ke-663 Ngawi, Jamasan Pusaka Dilakukan Terbatas dengan Prokes Ketat

Ngawi, Pewarta – Jamasan pusaka telah menjadi tradisi dalam peringatan Hari Jadi Ngawi tiap tahunnya, kali ini digelar di Ruang Data Pendopo Wedya Graha, Minggu (04/07/2021).

Dalam prosesi ini ada dua pusaka berupa tombak yang dijamas diantaranya Kyai Singkir dan Kyai Songgo langit, juga dua payung pusaka yakni Tunggul Wulung sertaTunggul Warono dengan air khusus yang disiapkan para sesepuh Ngawi.

Prosesi jamasan ini diawali mundhut dan lolos pusoko Kyai Singkir dan Songsong Tunggul Wulung, Kyai Songgo Langit serta Songsong Tunggul Warono oleh Parogo, selanjutnya diserahkan kepada Pangasto Pusoko. Saat prosesi pencucian (jamas,red) diiringi rerepan gending Jamasan Pusoko, kemudian begitu selesai dikembalikan ke gedung pusaka.

“Peraga yang biasanya dilakukan banyak orang, sekarang hanya dilakukan dua orang saja yakni bupati dan sekda. Acaranya hanya menyerahkan pusaka ke para sesepuh untuk dijamasi atau dimandikan,” ungkap Zainal Fanani, Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ngawi.

Tradisi jamasan pusaka tahun ini juga dilaksanakan dengan lebih cepat. Selain itu juga menghilangkan kirab atau arak-arakan serta membatasi peserta. Bila biasanya pimpinan daerah hadir secara lengkap, tahun ini hanya bupati-wabup, ketua DPRD, Kajari dan Kepala PN Ngawi saja yang hadir.

“Sengaja kita percepat, kita tetap lakukan acara ini namun dengan beberapa penyesuaian sesuai prokes. Jamasan ini juga sebagai bagian dari adat dan budaya yang perlu dilestarikan,” pungkas Zainal Fanani.

Acara yang berlangsung khidmat ini, dihadiri Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono, Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, Ketua DPRD Ngawi, Heru Kusnindar, Sekretaris Daerah Ngawi, Mokh Sodiq Triwidiyanto, Kajari Ngawi, Budi Raharjo serta pejabat lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi, dengan protokol kesehatan ketat yang jumlahnya tidak lebih dari 30 orang apalagi dimasa PPKM Darurat ini.

Seperti yang disampaikan Bupati Ngawi usai acara bahwa jamasan pusaka kali ini dibatasi, “Jamasan pusaka, biasanya dihadiri seluruh kepala OPD, Camat, Perwakilan kepala Desa sampai 300 orang kali ini hanya dihadiri tak lebih dari 30 orang yakni Forkopimda beserta istri ditambah warogo dan yang menjamas. Hal ini adalah bentuk komitmen kami melaksanakan PPKM Darurat tapi masih menyelenggarakan tradisi budaya dalam rangka hari jadi Kabupaten Ngawi ke – 663,” jelasnya.

Ony Anwar menjelaskan esensi Jamasan Pusaka adalah bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk Kabupaten Ngawi agar selalu diberikan ketentraman, keamanan serta kondusifitas ang diwujudkan dalam sebuah tradisi, “Menjamas pusaka atau piandel yang digunakan oleh pimpinan terdahulu dalam melawan penjajah dan merupakan simbol perjuangan yang harus kita jaga atau uri – uri, sebagai tradisi yang esensinya wujud syukur karena dulu pimpinan kita berjuang sangat luar biasa,”terangnya.

Ditambahkan Bupati Ngawi, seluruh rangkaian peringatan Hari Jadi Ngawi ke 663 ini karena dalam situasi pandemi dan PPKM Darurat dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat, ” Pun sesuai dengan Tema Hari Jadi ke- 663 yakni Gotong Royong Ngawi Tangguh, dengan semangat gotong royong kita wujudkan Ngawi Tangguh melawan Covid-19,” pungkasnya (Ryan/Ik)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button