Serba - serbiSERBA-SERBI

HANS GEORGE GADAMER DENGAN FILSAFAT HERMENEUTIKANYA

Ahmad Zordan Khalifi S. Pd.

Program Magister Pendidikan Agama Islam

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Email : ahmadzordan@gmail.com

Abstrak;

Corak pemikiran para filsuf memiliki ciri khas masing-masing dalam melihat sebuah realitas. Dari banyaknya pemikiran tersebut pasti di dalamnya terlahir usaha untuk memperbaiki berbagai sistem di masa itu. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka/library research dengan menela’ah sumber literatur yang diperoleh penulis. Tujuan pembahasan ini adalah untuk mengetahui bagaimana proyek filsafat Hans George Gadamer tentang Hermeneutika. Untuk mendapatkan pemahaman yang maksimal, Gadamer mengajukan empat teori: prasangka hermeneutik, lingkaran

Hermeneutika, Aku-Engkau” menjadi “Kami” dan hermeneutika dialektis. Keempat teori ini bukan hal yang baru dalam tradisi tafsir. Sebab prinsip dasar hermeneutikaadalah sebuah upaya interpretatif untuk memhami teks.

Kata Kunci : H. G. Gadamer, proyek filsafat, Hermeneutika

A.    Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Ada beberapa fase pemikiran filsafat yang menghiasi panggung sejarah umat manusia dari dulu hingga sekarang yaitu kosmosentris, teosentris, antroposentris dan logosentris. Fase “kosmosentris” adalah fase di mana alam dipandang sebagai objek discourse. Ini terjadi pada masa klasik. Pada fase “teosentris”, Tuhan menjadi objek pembicaraan. Ini berlangsung pada abad

pertengahan. Di abad modern yang merupakan fase antroposentris,  wacana yang penting dan dominan dalam kajiannya adalah seputar manusia terutama kekuatan akal atau rasionya. Hingga akhirnya di abad mutakhir ini, abad 20 adalah fase “logosentris”, bahasa menjadi pusat objek perbincangan yang menarik.1

Hermeneutika berada pada fase keempat atau fase mutakhir, sebab berbicara hermeneutika tidak terlepas dari bahasa. Ilmu hermeneutika lahir dilatarbelakangi oleh kondisi desentralisasi manusia, di mana manusia-sebelum fase logosentris –tidak lagi dipandang sebagai subjek bahasa, subjek pemikiran, subjek tindakan dan pusat sejarah. Manusia tidak lagi dilihat sebagai subjek atas pemaknaan realitas. Di dalam penjabaran ini, manusia tidak “berbicara sendiri”, melainkan “dibicarakan” oleh struktur-struktur bahasa, sosial-ekonomi, politik dan seterusnya. Manusia benar-benar sudah tidak lagi mengendalikan atau mencetak bahkan membentuk struktur dan system, tetapi justru dikendalikan, dicetak atau dibentuk oleh struktur dan sistem.2 Singkatnya, manusia telah menjadi maf’ul, dan tidak lagi sebagai fa’il atas pemaknaan realitas, dengan kata lain manusia menjadi objek kajian.

1 Herry Hamerma, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, (Jakarta:Gramedia, cet. 3), hal. 141.
2 Ibid..,hal. 142.

Pembahasan ilmu hermeneutika seputar logos yang berarti bahasa, teks, isi, pemikiran, kata dan pembicaraan, berupaya memberikan pemaknaan dan pemahaman yang mendalam terhadap segala sesuatu. Banyak filsuf melihat bahasa sebagai objek dan tema terpenting pemikiran mereka agar lebih tampak

ciri khas proyek mereka masing-masing. Kalau “bahasa” dimengerti dalam arti lebih luas, yaitu dalam arti “teks”, texture, tenunan/rangkaian struktur-struktur, maka para filsuf sekarang menganggap filsafat sebagai suatu “teks” yang harus ditafsirkan dengan berbagai model penafsiran. Mereka menyelidiki tema-tema terpenting dalam teks ini dan bertanya siapakah pengarang teks ini, hingga menelisik  lebih  dalam  tentang  suatu  teks.  Sederhananya  filsafat  ini  dapat

dikatakan ”filsafat mengenai filsafat” atau hermeneutika. Dalam rangka “mengampanyekan” model filsafat ini, telah diterbitkan sejumlah karya dari pemikir-pemikir besar hermeneutika, seperti Ricoeur Russell, Jurgen Habermas, Hans-Georg Gadamer dan lain-lain.

Tulisan ini akan membahas hermeneutika dalam pandangan Gadamer, terutama tentang beberapa teori-teorinya sebagai upaya memahami sebuah teks (hermes). Tentu akan menimbulkan berbagai pro dan kontra dalam pembahasannya. Akan tetapi secara fungsional, hermeneutika berperan dalam upaya memahami argumen/proyek filsafat dari para filsuf yang memiliki ciri khas masing-masing dalam melihat segala sesuatu. Sebelum sampai pada bahasan yang dimaksud, akan dijelaskan sedikit tentang definisi hermeneutika itu sendiri agar nantinya sinkron dengan apa yang disuarakan oleh H. G. Gadamer.

B.     Pembahasan

  1. Definisi Hermeneutika

Secara etimologis, hermeneutika (hermeneutic) berasal dari bahasa Yunani dari kata kerja hermeneuein yang berarti menjelaskan, menerjemahkan dan

mengekspresikan.3 Memiliki kata benda yakni hermeneia, yang berarti tafsiran. Dalam tradisi Yunani kuno kata hermeneuein dan hermeneia dipakai dalam tiga makna, yaitu (1) “mengatakan”, to say (2) ”menjelaskan” to explain dan (3) “menterjemahkan”,to translate. Tiga makna inilah yang dalam kata Inggris diekspresikan dalam kata : to interpret. Interpretasi dengan demikian menunjuk pada tiga hal pokok : pengucapan lisan (an oral ricitation), penjelasan yang masuk akal (a reasonable explation) dan terjemahan dari bahasa lain (a reation from another language).4

Secara historiss kata hermeneutika merujuk pada nama Hermes, tokoh seorang utusan Tuhan dalam mitologi Yunani yang bertugas menjadi perantara antara dewa Zeus dan manusia. Ia bertugas menjelaskan kepada manusia perintah-perintah tuhan mereka. Dengan kata lain ia bertugas untuk menjembatani antara dunia langit (divire) dengan dunia manusia.

Konon suatu saat Hermes dihadapkan pada persoalan pelik ketika harus

menyampaikan pesan Zeus untuk manusia. Yaitu bagaimana  menjelaskan bahasa Zeus yang menggunakan “bahasa langit” agar bisa dimengerti oleh manusia yang menggunakan “bahasa bumi”.  Akhirnya  dengan  segala kepintaran dan kebijaksanaannya, Hermes menafsirkan dan menerjemahkan bahasa Zeus ke dalam bahasa manusia sehingga menjelma menjadi sebuah teks suci. Kata teks berasal dari bahasa Latin yang berarti produk tenunan atau pintalan. Dalam hal ini yang dipintal oleh Hermes adalah gagasan dan kata-kata Zeus agar hasilnya menjadi sebuah narasi dalam bahasa manusia yang bisa dipahami.5

Dalam tradisi filsafat perenial terdapat dugaan kuat bahwa figur Hermes yang dimaksud adalah Nabi Idris a.s. yang disebutkan dalam Al-Quran.

3 E. Sumaryono, Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat, (Yogyakarta, PT. Kanisius, 1993), hal.23.
4 Joko Siswanto, Sistem-Sistem Metafisika Barat dan Aristoteles sampai Derrida,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1998), hal. 172-173.
5 Komaruddin Hidayat, Tragedi Raja Midas MoralitasAgama dan Krisis Modernisme, (Jakarta: Paramadina, 1998), hal.117.

Anggapan ini diakui oleh Hossein Nasr sendiri bahkan oleh sebagian ulama dan mufassir lainnya.6 Di kalangan pesantren pekerjaan Nabi Idris a.s.  sebagai tukang tenun atau pemintal tersebut kita kaitkan dengan mitologi Yunani tentang dewa Hermes di atas yang memiliki kisah serupa dengannya, maka di antara keduanya terdapat korelasi positif. Yaitu memintal  atau  merangkai dalam artian memintal atau merangkai kata dan makna yang berasal dari Tuhan agar nantinya mudah dipahami oleh manusia secara universal. Sementara itu, kata kerja “memintal” padanannya dalam bahasa Latin adalah tegere, sedangkan

produknya disebut textus atau text.7

Dengan demikian, hermeneutika memang sejak awal telah berurusan dengan persoalan bagaimana menjelaskan bahasa, lisan maupun tulisan, yang tidak jelas, kabur, atau kontradiksi sehingga dengan amat mudah dimengerti dan tidak menimbulkan keraguan, kebimbangan dan kesalahtafsiran bagi pendengar atau pembacanya. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, hermeneutika menjadi sebuah disiplin filsafat yang memusatkan bidang kajiannya    pada    persoalan    “understanding   of   understanding   (memahami

pemahaman) terhadap sebuah teks, terutama teks Kitab Suci, yang datang dari

kurun waktu, tempat, serta situasi sosial yang asing atau berbeda dengan pembacanya.8 Maka dari itu, diperlukan proyek hermeneutika agar lebih mudah dalam rangka memahami pesan-pesan yang ada dalam teks Kitab Suci tersebut.

b.     Biografi singkat Hans George Gadamer

Hans-George Gadamer lahir di Marburg pada tahun 1900. Ia belajar filsafat pada universitas di kota asalnya, antara lain pada Nikolai Hartmann dan Martin Heidegger dan mengikuti kuliah juga pada Rodolf Bultmann, seorang teolog protestan. Pada tahun 1922 ia meraih gelar “doktor filsafat” karena kecemerlangan otaknya. Sembilan tahun kemudian ia menjadi privat dozent di

6 Sayyed Hossein Nashr, Knowledge and Sacred,(State University Press, 1989), hal. 71.

7 Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama Sebuah Kajian Hermeneutika, (Jakarta:Paramadina,1996), hal.126.

8 Komaruddin Hidayat, Arkoun dan Tradisi Hermeneutika,dalam “Tradisi Komederenan dan Modernisme”, penyunting Dr. Johan Hendrik Meuleman, (Yogyakarta: LKiS, 1994), hal. 24-25.

Marburg. Selama tiga tahun mengajar, tepatnya tahun 1937 ia akhirnya menjadi profesor. Tetapi dua tahun kemudian Gadamer pindah ke Leipzig. Pada tahun 1947 ia pindah lagi ke Frankfurt am Main. Akhirnya di tahun 1949 ia mengajar di Heidelberg sampai pensiunnya.9

Sosok Gadamer dikenal sebagai seorang penulis kontemporer dalam bidang hermeneutika yang amat terkemuka. Lewat karya monumentalnya yang berjudul Wahrheit and Methode: Grundzuge einer Philosophischen Hermeneutik. ( Kebenaran dan Metode: Sebuah Hermeneutika Filosofis menurut garis besarnya) berhasil menghantarkan dirinya sebagai seorang filsuf terkemuka di bidang hermeneutika filosofis. Buku ini pertama kali terbit tahun 1960 dalam bahasa Jerman, dianggap sebagai salah satu kejadian luar biasa dalam filsafat Jerman dewasa ini karena curahan pemikirannya tentang proyek filsafat yang dapat

dikatakan baru tersebut. Pada tahun 1965 diterbitkan cetakan kedua dengan suatu kata pendahuluan yang baru di mana Gadamer menjelaskan maksudnya dan menjawab sejumlah keberatan-keberatan yang telah dikemukakan oleh tokoh-tokoh sebelumnya dan berusaha mengkritisi; ditambah lagi sebuah lampiran. Buku ini kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan judul       Truth   and   Method      (Kebenaran   dan   Metode).   Karya   ini   sekaligus

merupakan  contoh  mengenai  model  penafsiran  reproduktif  dan  penafsiran

produktif karena dari karya ini telah lahir ratusan artikel, puluhan buku dan desertasi serta makalah seminar yang khusus membicarakan berbagai dimensi buku Truth and method. Lewat karya besar inilah, Gadamer menjadi seorang pemikir hermeneutika historis paling ternama di abad ini. Meski demikian, bukanlah hal mudah untuk memahami proyek filsafat Gadamer, bahkan juga menterjemahkannya, artinya perlu kerja keras untuk melakukannya.10

9 K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman,(Jakarta:Gramedia, 1983), hal. 233.

10 E. Sumaryono, Hermeneutik : Sebuah Metode Filsafat, (Yogyakarta, PT. Kanisius, 1999), hal. 67

c.      Hermeneutika di Mata Hans George Gadamer

Untuk mengawali bukunya yang berjudul Truth and Method (Kebenaran dan Metode), Gadamer menganalisis seni secara hermeneutis. Ia berusaha memperlihatkan bahwa perkembangan dalam ilmu pengetahuan alam

mengakibatkan perubahan dalam penilaian manusia terhadap bentuk-bentuk pengenalan yang lainnya, misalnya pengalaman estetis. Ilmu pengetahuan mulai memenopoli pengenalan objektif, sehingga pengalaman terhadap karya-karya seni diinterpretasikan sebagai subjek belaka. Menurut Gadamer pengalaman seni benar-benar mengungkapkan kebenaran kepada kita dan membuat kita menjadi mengerti betapa luasnya cakupan seni dan manfaatnya. Oleh karena itu kesenian pun termasuk wilayah hermenutika.11

Bagi Gadamer sebuah karya seni -terutama drama dan musik-memegang peranan penting dalam memahami hermeneutika. Gadamer menyebut drama dan musik sebagai “The reproductive arts” (seni reproduktif). Dalam bukunya Truth and Methode, Gadamer memulai diskusinya-sebagaimana yang ditulis oleh Richard lewat karya-karya seni membawanya melangkah lebih jauh untuk mempertanyakan sekitar interpretasi teks-teks (wacana), sejarah dan sesuatu

yang “diwariskan kepada kita” lewat sebuah tradisi yang  masih  hidup.  Apa yang sekarang diperlukan untuk memahami pemahaman itu sendiri dan melakukannya dalam sebuah cara yang memungknkan kita  membuat pengertian tentang klaim, bahwa pemahaman mestilah diperlukan untuk memaknai sebuah teks.


Dalam menafsirkan sejarah, menurut Gadamer, intensi teologis penafsir sangat mempengaruhi dalam pengambilan makna. Maksudnya, sejarah sebagai sebuah peristiwa masa lalu manusia diberi makna proyektif untuk memandang masa depan, dengan kerangka berpikir hari ini. Oleh karenanya obyektifitas historis menjadi kabur. Yang ada adalah sebuah intensi kedepan berdasarkan asumsi-asumsi dan sistem nilai yang diwariskan oleh tradisi. Dengan bahasa

11 K. Bertens, Filsafat Barat….. , hal. 226.

lain, dalam tradisi hermeneutis Gadamer, bahwa dalam setiap pemahaman atas teks, unsur subyektivitas penafsir amat sulit dihindari mengingat cara berfikir setiap manusia beraneka ragam.12 Bahkan secara ektrem dikatakan bahwa sebuah teks akan “berbunyi dan hidup” ketika dipahami, ditafsirkan, dan diajak dialog dengan pembacanya. Teks menjadi bermakna karena kita yang memaknainya.

Karena itu bisa dikatakan bahwa apa yang disebut pemahaman dan pengalaman agama sampai pada batas-batas tertentu merupakan refleksi dan penafsiran subyektif yang muncul dari proses dialog seseorang dengan dunia yang dihadapi, termasuk dunia tradisi dan teks keagamaan. Dapat dikatakan bahwa, ketika seseorang membaca atau memahami sebuh teks, maka secara tidak langsung ia memproduksi ulang dan menafsirkan teks sesuai dengan kemampuan dan kecenderungan subyektivitasnya. Oleh karena itu, sebuah teks yang sama, ketika dibaca ulang akan melahirkan pemahaman baru baik itu bersifat distruktif maupun konstruktif.

d.     Proyek Hermeneutika Hans George Gadamer

Dalam teori Gadamer, membaca dan memahami sebuah teks pada dasarnya adalah juga melakukan dialog, sebuah sinkronisasi dan membangun sintesis antara dunia teks, dunia pengarang dan dunia pembaca. Ketiga hal ini (dunia teks, dunia pengarang dan dunia pembaca) harus menjadi pertimbangan dalam setiap pemahaman, di mana masing-masingnya mempunyai konteks tersendiri sehingga jika memahami yang satu tanpa mempertimbangkan yang lain, maka pemahaman atas teks menjadi kering dan miskin, sehingga berpotensi munculnya penyimpangan nilai.

Untuk mendapatkan pemahaman yang maksimal, Gadamer mengajukan beberapa teori diantaranya sebagai berikut:

Pertama, prasangka hermeneutik“. Maksud dari prasangka hermeneutik

adalah    bahwa dalam membaca dan memahami sebuah teks harus dilakukan

12 Komaruddin Hidayat, Tragedi Raja Midas…, hal. 124.

secara teliti dan kritis. Sebab sebuah teks yang tidak diteliti dan diintegrasi secara kritis tidak menutup kemungkinan besar sebuah teks akan menjajah kesadaran kognitif kita. Tetapi adalah hal yang tidak mudah bagi seseorang untuk memperoleh data yang akurat mengenai asal-usul sebuah teks dan cenderung untuk menerima sumber otoritas tanpa argumentasi kritis.13

Kedua, Lingkaran Hermeneutika. “Prasangka hermeneutik” bagi Gadamer

nampaknya baru merupakan tangga awal untuk dapat memahami sebuah teks secara kritis. Penekanan perlunya “mengerti” dilakukan oleh Gadamer . Bagi Gadamer “mengerti” merupakan suatu proses yang melingkar. Untuk mencapai pengertian, maka seseorang harus bertolak dari pengertian. Misalnya untuk mengerti suatu teks maka harus memiliki prapengertian/hipotesa tentang teks tersebut. Jika tidak, maka tidak mungkin akan memperoleh pengertian tentang teks tersebut. Tetapi di lain pihak dengan membaca teks itu, prapengertian terwujud menjadi pengertian yang sungguh-sungguh. Proses ini oleh Gadamer disebut dengan “The hermeneutical circle” (lingkaran hermeneutika) seperti yang disampaikan di awal tahap kedua.14

Akan tetapi tidak dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa lingkaran itu timbul jika kita membaca teks-teks. Lingkaran ini sebenarnya telah terdapat pada taraf yang paling fundamental. Lingkaran ini menandai eksistensi manusia sendiri. “Mengerti” dunia hanya mungkin kalau ada prapengertian  tentang dunia, dan tentang diri kita sendiri, sehingga mewujudkan eksistensi  kita sendiri.

Apa yang dimaksudkan dengan “ prasangka hermeneutika “ dan “ lingkaran hermeneutika” bagi Gadamer di atas mengandaikan bahwa dalam melakukan interpretasi atau pemahaman terhadap suatu teks, seorang hermeneut atau pelaku interpretasi tidak berada dalam keadaan kosong. Dia akan membawa serangkaian pra-anggapan ke dalam teks tersebut. Bila teori ini

13 Ibid… , hal. 133.
14 Kaelan, M.S, Filsafat Bahasa Masalah dan Perkembangannya, (Yogyakarta: Paradigma, 1998), hal. 208.

kita kaitkan dengan ilmu tafsir dalam tradisi Islam, maka seorang mufassir Al- Quran, ia akan membawa sejumlah prasangka berupa -misalnya- pengetahuannya tentang bahasa Arab, puisi, “ konteks dan intra teks dalam Al- Quran, dan inter-teks antara Al-Quran dengan teks yang lain.

Ketiga, istilah  “Aku-Engkau”  menjadi  Kami”  yang  disampaikan  oleh

Gadamer. Menurut Gadamer sebuah dialog seperti dialog kita dengan teks akan dipandang sebagai dialog yang produktif jika formulasi subjek-objek “aku- engkau” telah hilang dan digantikan dengan ”kami”.15

Sebetulnya pemahaman itu tidak hanya sampai di situ, karena kesadaran subjek yang dari ”aku-engkau’ menjadi ”kami” masih potensial untuk menghalangi sebuah partisipasi maksimal untuk memperoleh pemahaman yang benar sebelum subjek ”kami” hilang melebur pada substansi yang didialogkan. Ibarat pemain bola, yang bisa diperoleh secara benar dan autentik ketika yang bersangkutan mengalami sendiri serta lebur di dalam peristiwa permainan yang sehat dan ideal di mana pemain, wasit, penonton meninggalkan indentitas ”keakuannya” dan semuanya tertuju pada kualitas dan seni permainan itu sendiri.

Jadi, sikap memahami sebuah teks sedapat mungkin bagaikan upaya memahami dan menghayati sebuah festival yang menuntut apresiasi dan partisipasi sehingga pokok bahasan itu sendiri yang hadir pada kita, bukan lagi kesadaran subjek-objek.

Keempat,   hermeneutika   dialektis.    Gadamer    menegaskan    bahwa    setiap

15 Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama Sebuah Kajian Hermeneutika…, hal. 150.

pemahaman kita senantiasa merupakan suatu yang bersifat historis, peristiwa dialektis dan peristiwa kebahasaan. Karena itu,terbuka kemungkinan terciptanya hermeneutika yang lebih luas. Hermeneutika adalah ontologi dan fenomenologi pemahaman. Kunci bagi pemahaman adalah partisipasi dan keterbukaan, bukan manipulaisi dan pengendalian. Lebih lanjut menurut Gadamer    hermeneutika    berkaitan    dengan    pengalaman,    bukan    hanya

pengetahuan; berkaitan dengan dialetika bukan metodologi. Metode dipandangnya bukan merupakan suatu jalan untuk mencapai suatu kebenaran. Kebenaran akan mengelak kalau kita menggunakan metodologi. Gadamer memperlihatakan bahwa dialetika sebagai suatu sarana untuk melampaui kecenderungan metode yang memprastrukturkan kegiatan ilmiah seorang peneliti. Metode menurut Gadamer tidak mampu mengimplisitkan kebenaran yang sudah impilisit di dalam metode. Hermeneutika dialektis membimbing manusia untuk menyingkap hakekat kebenaran, serta menemukan hakekat realitas segala sesuatu secara sebenarnya.16

Di sisi lain seperti sudah disinggung sebelumnya, fokus dari proses penafsiran (hermeneutika) dari Heidegger adalah eksistensi manusia. Sementara fokus dari hermeneutika Gadamer adalah teks literatur dalam arti sesungguhnya.17 Dalam arti ini fokus dari hermeneutika Heidegger adalah membentuk manusia yang otentik, yakni membantu menemukan tujuan dasar dari eksistensi manusia. Sementara bagi Gadamer fokus dari hermeneutika adalah menemukan pokok permasalahan yang ingin diungkapkan oleh teks. Namun keduanya sepakat bahwa musuh utama dari proses penafsiran untuk mencapai pemahaman adalah prasangka. Prasangka membuat orang  melihat apa yang ingin mereka lihat, yang biasanya negatif, dan menutup mata mereka dari kebenaran itu sendiri, baik kebenaran di level eksistensi manusia, maupun kebenaran yang tersembunyi di dalam teks.

16 Kaelan, M.S, Filsafat Bahasa, Masalah dan Perkembangannya, hal. 209.
17 Jean Grondin, “Gadamer’s Basic Understanding of understanding”, dalam Cambridge Companion to Gadamer, Cambridge: Cambridge University Press, hal. 49

Walaupun banyak memiliki perbedaan, namun Gadamer dan Heidegger setidaknya identik dalam satu hal, yakni bahwa proses lingkaran hermeneutik sangatlah penting di dalam pembentukan pemahaman manusia. Dengan demikian kita bisa memastikan, bahwa walaupun filsafat Heidegger sangat mempengaruhi pemikiran Gadamer, namun keduanya tidaklah sama. Gadamer memang mendapatkan banyak sekali inspirasi dari Heidegger. Namun ia

kemudian mengembangkannya serta menerapkannya pada hal yang lebih spesifik, yakni proses penafsiran tekstual di dalam literatur dan filsafat. Inilah inti dari Hermeneutika Gadamer. Ia memberikan kepada kita prinsip-prinsip untuk menafsirkan teks-teks dari masa lalu. Dan dengan itu ia membantu kita memahami apa artinya menjadi manusia dengan berdasarkan pada historisitas kehidupan itu sendiri.

Gadamer boleh kita sebut sebagai seorang hermeneut sejati. Secara mendasar, ia menegaskan bahwa persoalan hermeneutik bukan persoalan tentang metode. Hermeneutik lebih kepada usaha memahami dan menginterpretasi suatu teks. Hermeneutik merupakan bagian dari keseluruhan pengalaman mengenai dunia. Hubungannya dengan teknik tertentu, berusaha kembali ke tata bahasa, aspek kata-kata retorik dan aspek dialektik ke suatu bahasa membuat hermeneutik memiliki ciri khas tersendiri. Maka dari itu, hermeneutik disebut sebagai “filsafat praktis” yang dapat diajarkan di setiap zaman.18

C.    Kesimpulan

Salah satu filsuf yang dibahas kali ini tampaknya telah memberikan pembaca informasi dan ilmu yang bermanfaat. Ada pepatah mengatakan “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan  gading,  manusia  meninggalkan karya”. Gadamer telah membuktikan bahwa dirinya manusia yang dimaksud dalam kata pepatah tersebut. Proyek filsafat hermeneutikanya telah mewarnai “dunia falsafah”, sebab filsafat tidak hanya membicarakan tentang pemikiran para tokohnya saja, akan tetapi juga menelisik teks-teks bergenre apapun yang sudah muncul seperti kitab suci dan lain-lain.

18 E. Sumaryono, Hermeneutik : Sebuah Metode Filsafat.. , hal. 83-84

Hermeneutika berurusan dengan persoalan bagaimana menjelaskan bahasa, lisan maupun tulisan, yang tidak jelas, kabur, atau kontradiksi sehingga dengan amat mudah dimengerti dan tidak menimbulkan keraguan, kebimbangan  dan kesalahtafsiran bagi pendengar atau pembacanya. Kemudian dalam perkembangan

selanjutnya, hermeneutika menjadi sebuah disiplin filsafat yang memusatkan bidang kajiannya pada persoalan “understanding of understanding (memahami pemahaman) terhadap sebuah teks, terutama teks Kitab Suci, yang datang dari kurun waktu, tempat, serta situasi sosial yang asing atau berbeda dengan pembacanya.

Gadamer mengajukan teori hermeneutikanya agar dapat dipahami secara maksimal, diantaranya adalah 1) Prasangka Hermeneutika, 2) Lingkaran Hermeneutika, 3) Aku, Engkau menjadi Kami, 4) Hermeneutika Dialektis.

Dengan kata lain, hermeneutik model Gadamer adalah keterbukaan terhadap “yang lain”, apapun bentuknya, entah itu dalam bentuk teks, notasi musik, bahasa ataupun karya seni. Gadamer menekankan bahwa hermeneutik “miliknya” adalah sebuah seni yang sarat manfaat.

DAFTAR PUSTAKA

E. Sumaryono, Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat, (Yogyakarta, PT. Kanisius, 1993)

Herry Hamerma, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, (Jakarta:Gramedia, cet. 3)

Jean Grondin, “Gadamer’s Basic Understanding of understanding”, dalam Cambridge Companion to Gadamer, Cambridge: Cambridge University Press

Joko Siswanto, Sistem-Sistem Metafisika Barat dan Aristoteles sampai Derrida,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1998)

K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman,(Jakarta:Gramedia, 1983)

Kaelan, M.S, Filsafat Bahasa Masalah dan Perkembangannya, (Yogyakarta: Paradigma, 1998)

Komaruddin Hidayat, Arkoun dan Tradisi Hermeneutika,dalam “Tradisi Komederenan dan Modernisme”, penyunting Dr.   Johan   Hendrik   Meuleman, (Yogyakarta: LKiS, 1994)

Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama Sebuah Kajian Hermeneutika, (Jakarta:Paramadina,1996)

Komaruddin Hidayat, Tragedi Raja Midas MoralitasAgama dan Krisis Modernisme, (Jakarta: Paramadina, 1998)

Sayyed Hossein Nashr, Knowledge and Sacred,(State University Press, 1989)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!